Tak Pakai Masker Mulai Diperbolehkan, Selama tidak Padat Orang, Kecuali Golongan Masyarakat Ini

17 Mei 2022, 18:38 WIB
Presiden Joko Widodo menyampaikan pelonggaran kebijakan pemakaian masker bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan atau area terbuka. /presidenri.go.id

KABAR BANTEN-Pemerintah memutuskan untuk melonggarkan kebijakan pemakaian masker bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan atau area terbuka.

Kebijakan pemakaian masker di laur ruangan tersebut, diambil dengan memperhatikan kondisi penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia yang saat ini makin terkendali.

Pelonggaran pemakaian masker di luar ruangan tersebut, disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dalam keterangannya di Istana Kepresidenan Bogor pada Selasa, 17 Mei 2022.

Dalam kesempatan itu, Pemerintah memutuskan untuk melonggarkan kebijakan pemakaian masker di luar ruangan atau di area terbuka. Selama tidak padat orang, diperbolehkan untuk tidak menggunakan masker.

Namun untuk kegiatan di ruangan tertutup dan transportasi publik, kata dia, tetap harus menggunakan masker.

Sementara itu, bagi masyarakat yang masuk kategori rentan, lansia, atau memiliki penyakit komorbid, Presiden Jokowi tetap menyarankan untuk menggunakan masker saat beraktivitas.

“Demikian juga bagi masyarakat yang mengalami gejala batuk dan pilek, maka tetap harus menggunakan masker ketika melakukan aktivitas,” kata Presiden Joko Widodo (Jokowi), dikutip kabarbanten.pikiran-rakyat.com dari laman resmi Presiden Republik Indonesia.

Selain melonggarkan kebijakan pemakaian masker, pemerintah juga melonggarkan kebijakan tes usap PCR atau Antigen bagi pelaku perjalanan. Aturan tersebut berlaku bagi mereka yang telah mendapatkan vaksinasi Covid-19 lengkap.

“Kedua, bagi pelaku perjalanan dalam negeri dan luar negeri yang sudah mendapatkan dosis vaksinasi lengkap maka sudah tidak perlu lagi melakukan tes swab PCR maupun antigen,”katanya.

Sementara itu, sebelumnya Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan selama 19 tahun, ASEAN dan Cina telah menghadapi beberapa wabah yang disebabkan oleh penyakit zoonosis.

mulai dari Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS) dan flu burung (H5N1) pada tahun 2003, serta SARS-CoV-2 pada 2019.

Untuk menghadapi wabah lain yang berpotensi menyebabkan pandemi, sangat penting untuk mempromosikan One Health dalam mengatasi akar penyebab pandemi. Wilayah kita perlu mendeteksi dan mengurangi ancaman dan wabah zoonosis dengan lebih baik.

Dalam pertemuan menteri kesehatan se-ASEAN bersama menteri kesehatan Cina, telah mempromosikan pendekatan One Health dalam menghadapi wabah penyakit.

''Kita setuju dengan MoU meng-cover kegiatan-kegiatan ASEAN dan Cina. Pada intinya tetap fokusnya ke cara kita mencegah pandemi ke depannya tapi lebih banyak ke konsep One Health,'' katanya pada Konferensi Pers di Akhir Pertemuan Menteri Kesehatan se-ASEAN ke-15 (15th AHMM) di Bali, Minggu 15 Mei 2022.

Hampir semua pandemi itu, lanjut Menkes Budi, virus, bakteri, atau parasitnya loncat dari hewan ke manusia. Seperti halnya virus flu burung dari unggas ke manusia.

''Untuk mencegah terjadinya pandemi kita harus memonitor ekosistem hewannya supaya jangan sampai virusnya loncat. Kalaupun virusnya loncat yang tadinya menular hanya di antara hewan kemudian pindah dari hewan ke manusia itu harus dideteksi lebih dini lagi,'' tuturnya.

Selain itu, dalam forum pertemuan Menkes se-ASEAN dan Cina, dibahas komitmen Indonesia untuk mempromosikan pendekatan One Health antara lain dengan memperkuat kapasitas daerah dalam menerapkan pendekatan One Health.

''Saya ingin mengusulkan pembagian informasi dan pengawasan yang lebih ketat pada hewan di antara negara anggota ASEAN dan Cina,'' ucap Menkes Budi.

Pengoptimalan harus melibatkan data besar, kecerdasan buatan, dan internet untuk memungkinkan surveilans global terintegrasi secara real-time terhadap penyakit manusia, hewan dan tumbuhan.

Tak hanya itu, pemerintah harus mengembangkan pusat dan jaringan penelitian regional. Seperti yang pernah dialami selama pandemi Covid-19, yakni data genom global yang dipelajari oleh para peneliti telah memungkinkan penemuan dan pengembangan vaksin dan menyelamatkan nyawa.

Pemerintah juga harus membangun manufaktur lokal penanggulangan medis di ASEAN dengan memanfaatkan keahlian dan pengetahuan Tiongkok.

Semua upaya ini, kata Menkes Budi, akan membutuhkan personel yang berkinerja tinggi di One Health. Oleh karena itu, perlu membangun kapasitas personel yang bekerja di area One Health dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperbarui untuk menerapkan pendekatan One Health di kawasan Asia Tenggara.

''Saya berharap dapat melihat optimalisasi program ini secara maksimal untuk mencapai tujuan bersama ASEAN dengan pendekatan One Health,'' ucap Menkes Budi.*** 

Editor: Yadi Jayasantika

Sumber: presidenri.go.id

Tags

Terkini

Terpopuler